Tampilkan postingan dengan label WHO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WHO. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Publikasi Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok

Dalam pelaksanaan kegiatan diperlukan suatu media sebagai bukti bahwa kegiatan itu dilaksanakan. Namun semuanya tidak lepas dari kreativitas yang datang dari personal dengan dukungan peralatan yang disediakan oleh kantor. Ide mempublikasikan suatu kegiatan berawal pada tahun 2006 bermodalkan kamera saku olympus dan berjalan sampai tahun 2008, pada tahun 2009 penggunaan kamera saku milik pribadi merk Canon A550 mulai ikut andil sampai dengan tahun 2010 dan pengadaan kamera saku inventaris kantor mulai aktif pada tahun 2010 sampai sekarang. Lepas dari penggunaan kamera milik kantor atau pribadi hasilnya adalah hampir semua kegiatan telah diabadikan dan sebagian dipublikasikan dengan media internet dan semuanya bisa di lihat di bawah ini :
  1. di Google Photo KKP Kelas I Tanjung Priok
  2. di Google Photo Nana Mulyana
Semoga ke depan pengadaan barang untuk kamera adalah camera DSLR semi profesional kalau bisa profesional. Selain kegiatan yang diabadikan lewat photo kamera yang telah dipublikasikan tidak ketinggalan penggunaan handycam untuk kegiatan telah dipublikasikan walau hanya sebatas lagu Mars KKP untuk pelatihan dan sebagaian kunjungan pejabat. Pada tahun 2006 pula penggunaan Handycam merek Sony milik pribadi ( Agus Supadmo ) telah berperan sampai dengan tahun 2008, mulai pada tahun 2009 sampai sekarang inventaris kantor berperan penuh (masih kurang dalam perawatan dan penggantian suku cadang handycam). Semua video dapat dilihat di youtube

Setiap kegiatan yang dilaksanakan di luar TUPOKSI  memerlukan tenaga, waktu, pikiran, tanggungjawab, loyalitas juga finansial yang tidak sedikit. Namun semuanya untuk mempromosikan bahwa Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok telah GO PUBLIK dan diharapkan dikenal oleh masyarakat umum kalau bisa masyarakat dunia. Untuk mendukung file-file yang dilampirkan dalam blog ini pun bisa dilihat di http://www.scribd.com/ dan suatu kebangaan bahwa pada tahun 2010 file yang dimasukan di sana telah mencapai daftar pencarian tertinggi dan mendapat peringkat 30 se dunia file pdf versi scribd pada bulan Maret 2010. Semoga tahun mendatang para pejabat yang mengambil keputusan anggaran bisa mengalokasikan dana untuk membeli server dan domain sendiri jadi bukan hanya blog tetapi  dengan akhiran com , co.id. atau go.id  kalau bisa. 

Penulis walau bukan notabene Information technology (IT) atau jebolan akademik Information technology (IT) tetapi sebagai staf yang peduli bahwa Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok harus dikenal oleh masyarakat luas go internasional  terlepas dari segala reward dan  terus belajar untuk mempublikasikan yang lebih sempurna dan diterima oleh umum. Penulis berharap bahwa item inipun bisa menjadi angka kredit penilaian yang paling tinggi untuk kenaikan pangkat dan dalam materi penulisan yang akan disampaikan di blog ini mendapat dukungan penuh dari para pejabat struktural yang ada. Tanpa materi yang akan disampaikan maka usaha apapun dari penulis akan sia-sia belaka. Terutama materi yang memiliki dua bahasa indonesia dan bahasa inggris, penulis harapan dari para pejabatan struktural untuk mencapai audien pembaca dari seluruh dunia.

Semoga tulisan ini bukan yang terakhir dalam postingan penutup tahun 2010 dan ada pejabat Ditjen PP & PL  atau Depkes yang melirik tulisan ini sehingga postingan ke depan akan lebih berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat umum. Semoga ...

Sabtu, 14 November 2009

WHO Selidiki Kematian Penderita Kaki Gajah di Bandung

TEMPO Interaktif, BANDUNG - Kematian warga yang diduga meninggal setelah pengobatan kaki gajah di Kabupaten Bandung terus bertambah. Tercatat sementara, ada 8 orang dari sebelumnya 3 orang. "WHO dan Departemen Kesehatan yang menyelidiki kematian itu," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dr. Suhardiman, Jumat (13/11).

Ditemui Tempo di kantor Dinas Kesehatan Jawa Barat seusai melapor, dia mengatakan Badan Kesehatan Dunia dan Departemen Kesehatan mencari data ke sejumlah rumah sakit yang merawat warga setelah pengobatan massal anti kaki gajah pada 10 November lalu. Kunjungan itu diantaranya ke RSUD Majalaya, tempat yang paling banyak merawat pasien karena efek samping obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung tidak ikut menyelidiki karena rumah sakit, WHO, dan Depkes lebih berwenang. "Kan obatnya juga dari WHO, kalau kita hanya membagikan saja," ujarnya. Sumber berita


Delapan orang yang meninggal sesaat dan setelah masa pengobatan massal itu sejak Selasa hingga Kamis kemarin, ujar dia, adalah Danu (52) warga Desa Majakerta Kecamatan Majalaya, Toto (69) dan Nandang (47) warga Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran, Nonoh (40) penduduk Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi, Ahmad Juana (47) warga Kecamatan Bojongsoang, dan Lilis (52) warga Kecamatan Banjaran. Selain itu juga Omay Komarudin (64) warga Kampung Bojongsentul Kecamatan Banjaran, dan Apeng (40) warga Kampung Babakan Cebek Kecamatan Soreang.

Suhardiman mengatakan, dua orang meninggal sebelum meminum obat anti kaki gajah, diantaranya karena terjatuh dari pohon. Sedangkan enam orang lainnya dilaporkan sempat meminum obat itu. Dari hasil rontgen dan sampel darah pasien ketika sempat dirawat di RS Majalaya dan Soreang sebelum meninggal, mereka ternyata diketahui mengidap penyakit kronis seperti jantung dan darah tinggi. Gangguan itu selama ini hanya dirasakan dan ada juga yang tidak mengetahuinya sama sekali. "Ketahuannya baru di rumah sakit," ujarnya.

Tapi dia membantah kematian itu karena dipicu efek samping obat. Padahal sesuai anjuran, pengidap penyakit kronis itu dilarang meminumnya, begitu juga untuk anak dibawah usia 2 tahun, ibu hamil atau sedang menyusui, serta pasien diabetes. Penderita penyakit kronis, katanya, dibolehkan meminum obat asal kondisinya sedang baik. "Kasus itu bisa dibilang kejadian ikutan pasca minum obat (KIPMO)," katanya.

Sejauh ini, jumlah peminum obat anti kaki gajah itu baru mencapai 70 persen dari 2,7 juta warga sasaran di seluruh kecamatan. Sedangkan yang sudah dirawat di sejumlah rumah sakit sejak Selasa lalu sampai Jumat pukul 9 pagi tadi sudah mencapai 800 orang lebih. Keluhan warga paling banyak adalah mual, muntah, disertai pusing. Soal membludaknya pasien itu, kata dia, berarti sudah banyak warga yang selama ini mengidap cacing kaki gajah di tubuhnya dan kini mulai tersembuhkan.

Sedangkan Direktur Umum Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin dr Cissy RS. Kantaprawira mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk membantu penanganan kasus dampak pengobatan massal kaki gajah itu. Beranggotakan 5 dokter spesialis penyakit dalam, anak, farmakologi, dan forensik, tim mulai bekerja sejak Rabu lalu. Khusus penyelidikan sebab kematian, dokter forensik tidak melakukan otopsi karena jasad langsung dimakamkan keluarganya. "Paling kami hanya bisa melakukan otopsi herbal, mencari tahu obat apa saja yang dipakai dan riwayat kesehatannya," ujarnya saat dihubungi Tempo.

Pada 10 Nobember lalu, Bupati Bandung Obar Sobarna mencanangkan pengobatan massal untuk memberantas penyakit kaki gajah di wilayahnya. Saat ini tercatat ada 31 pengidap kaki gajah di 15 daerah endemis dari 31 kecamatan. Selang beberapa jam setelah pengobatan dengan cara pembagian 3 tablet Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan sebutir Albendazol itu oleh 12 ribu kader PKK dan Posyandunssrta tokoh masyarakat, puluhan warga yang mengeluhkan efek samping obat bergegas memeriksakan diri ke rumah sakit.

Selasa, 12 Mei 2009

Indonesia Mengusulkan Agar WHO Merevisi Parameter Status Pandemi

Indonesia mengusulkan agar WHO merevisi parameter dalam menentukan status pandemi karena status pandemi yang ditetapkan dapat membawa konsekuensi yang cukup berat bagi suatu negara (dalam hal ini contohnya Meksiko). Dalam menetapkan status pandemi hendaknya bukan hanya berdasarkan transmissibillity (penularan antar manusia) saja tetapi harus juga memasukkan pertimbangan determinan klinis (morbiditas dan mortalitas) serta determinan virologi/gen sequencing (high atau low pathogenic).

Usul Indonesia itu disepakati sebagai salah satu klausul dalam Joint Ministerial Statement ASEAN +3 Ministers Special Meeting on Influenza A H1N1 di Bangkok Thailan tanggal 7-8 Mei 2009.

Hal itu disampaikan Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K ) kepada para wartawan saat Jumpa Pers setibanya di tanah air usai menghadiri pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN +3 (China, Jepang dan Korea) tanggal 9 Mei 2009. Selengkapnya.........

Postingan Lama Beranda